Kamis, 29 Mei 2014
Senin, 19 Mei 2014
GELAS KACA YANG RETAK
Ada sebuah kisah hikmah entah nyata entah karangan fiksi. Ada seorang anak laki-laki yang suka sekali berkata kasar dan menyakitkan, suka mengganggu teman-temannya. Suatu hari sang ayah memanggilnya dan memberikan sebuah palu serta sekantong paku. Kemudian mengajak sang anak kesebuah tembok putih bersih yang baru dicat.
'Dengar nak, ini adalah sebuah permainan. Coba lakukan, tancapkan sebuah paku ditembok ini setiap kali kau berkata kasar, menyakiti perasaan orang lain atau mengganggu teman-temanmu."
"Baik ayah" jawab sang anak
Sejak itu setiap kali sang anak malakukan kenakalan dia akan memaku sebuah paku ditembok tersebut hingga akhirnya paku dikantong tersebut habis. Si anak menghadap sang ayah dan mengatakan hal tersebut.
Kemudian sang ayah membawa si anak ketembok tersebut dan memerintahkan untuk mecabut paku-paku tersebut satu persatu.
Dengan heran si anak menuruti perintah ayahnya.
Setelah semua paku tercabut, sang ayah berkata "Nak, coba kau lihat tembok ini. Walaupun paku yang kau tancapkan sudah kau cabut tapi lubang bekas paku tersebut tidak hilang. Sama halnya dengan yang kau lakukan pada orang lain. Jika kau berkata kasar atau menyakiti orang lain kemudian kau minta maaf tetap saja luka yang kau sebabkan dihati orang tersebut tidak akan hilang seperti halnya lubang bekas paku ditembok."
Itulah yang terjadi pada kita, berulangkali kau menyakiti, kemudian kau minta maaf. Mungkin aku memaafkanmu tapi luka yang kau sebabkan masih tetap ada dihatiku.
Bukan hanya luka sepele, kau tidak pernah tahu akibatnya. Luka-luka itu sangat mempengaruhi banyak hal. mempengaruhi caraku memperlakukanmu, menatapmu, bahkan mempengaruhi perasaanku terhadapmu.
Aku pernah mengatakan padamu, hati seorang wanita itu ibarat gelas kaca. Jika kau buat retak maka tidak akan kembali utuh seperti semula. Bagaimanapun cara memperbaikinya. Mungkin masih bisa digunakan tapi air didalamnya akan sangat sering merembes keluar. Satu-satunya cara adalah menggantinya dengan gelas kaca yang baru.
Itu pilihanmu.
'Dengar nak, ini adalah sebuah permainan. Coba lakukan, tancapkan sebuah paku ditembok ini setiap kali kau berkata kasar, menyakiti perasaan orang lain atau mengganggu teman-temanmu."
"Baik ayah" jawab sang anak
Sejak itu setiap kali sang anak malakukan kenakalan dia akan memaku sebuah paku ditembok tersebut hingga akhirnya paku dikantong tersebut habis. Si anak menghadap sang ayah dan mengatakan hal tersebut.
Kemudian sang ayah membawa si anak ketembok tersebut dan memerintahkan untuk mecabut paku-paku tersebut satu persatu.
Dengan heran si anak menuruti perintah ayahnya.
Setelah semua paku tercabut, sang ayah berkata "Nak, coba kau lihat tembok ini. Walaupun paku yang kau tancapkan sudah kau cabut tapi lubang bekas paku tersebut tidak hilang. Sama halnya dengan yang kau lakukan pada orang lain. Jika kau berkata kasar atau menyakiti orang lain kemudian kau minta maaf tetap saja luka yang kau sebabkan dihati orang tersebut tidak akan hilang seperti halnya lubang bekas paku ditembok."
Itulah yang terjadi pada kita, berulangkali kau menyakiti, kemudian kau minta maaf. Mungkin aku memaafkanmu tapi luka yang kau sebabkan masih tetap ada dihatiku.
Bukan hanya luka sepele, kau tidak pernah tahu akibatnya. Luka-luka itu sangat mempengaruhi banyak hal. mempengaruhi caraku memperlakukanmu, menatapmu, bahkan mempengaruhi perasaanku terhadapmu.
Aku pernah mengatakan padamu, hati seorang wanita itu ibarat gelas kaca. Jika kau buat retak maka tidak akan kembali utuh seperti semula. Bagaimanapun cara memperbaikinya. Mungkin masih bisa digunakan tapi air didalamnya akan sangat sering merembes keluar. Satu-satunya cara adalah menggantinya dengan gelas kaca yang baru.
Itu pilihanmu.
Kamis, 15 Mei 2014
FROZEN
Bagaimana mungkin kau menyakitiku sedemikian rupa
Seakan hatimu sebeku salju
Aku ini warnamu, tanpaku kau kelabu
Memutuskan seiring bersamamu tidak cukup mudah
Terlalu berat resiko yang harus aku tempuh
selama bersamamu aku menjalani banyak cara hidup dan tak seluruhnya disebut bahagia
Aku tetap disisimu
Dan kau membalasnya dengan menyakitiku selama itu
Bagaimana kau menatapku, bagaimana caramu merasakanku
Aku mulai lelah
Dayaku kian melemah
Tak selamanya hati ini setegar karang
Bila kau buat berkeping untuk kesekian kalinya
Mungkin inilah saatnya aku pergi
Jika aku telah melangkah
Sekuat apapun kau memanggil
Aku takkan kembali
Mungkin berat, sangat
tapi aku tak ingin disakiti lagi
Separuh hidupku kuhabiskan membalut luka
Maka harusnya separuhnya kuhabiskan dalam bahagia
Seakan hatimu sebeku salju
Aku ini warnamu, tanpaku kau kelabu
Memutuskan seiring bersamamu tidak cukup mudah
Terlalu berat resiko yang harus aku tempuh
selama bersamamu aku menjalani banyak cara hidup dan tak seluruhnya disebut bahagia
Aku tetap disisimu
Dan kau membalasnya dengan menyakitiku selama itu
Bagaimana kau menatapku, bagaimana caramu merasakanku
Aku mulai lelah
Dayaku kian melemah
Tak selamanya hati ini setegar karang
Bila kau buat berkeping untuk kesekian kalinya
Mungkin inilah saatnya aku pergi
Jika aku telah melangkah
Sekuat apapun kau memanggil
Aku takkan kembali
Mungkin berat, sangat
tapi aku tak ingin disakiti lagi
Separuh hidupku kuhabiskan membalut luka
Maka harusnya separuhnya kuhabiskan dalam bahagia
Langganan:
Postingan (Atom)

