Ada sebuah kisah hikmah entah nyata entah karangan fiksi. Ada seorang anak laki-laki yang suka sekali berkata kasar dan menyakitkan, suka mengganggu teman-temannya. Suatu hari sang ayah memanggilnya dan memberikan sebuah palu serta sekantong paku. Kemudian mengajak sang anak kesebuah tembok putih bersih yang baru dicat.
'Dengar nak, ini adalah sebuah permainan. Coba lakukan, tancapkan sebuah paku ditembok ini setiap kali kau berkata kasar, menyakiti perasaan orang lain atau mengganggu teman-temanmu."
"Baik ayah" jawab sang anak
Sejak itu setiap kali sang anak malakukan kenakalan dia akan memaku sebuah paku ditembok tersebut hingga akhirnya paku dikantong tersebut habis. Si anak menghadap sang ayah dan mengatakan hal tersebut.
Kemudian sang ayah membawa si anak ketembok tersebut dan memerintahkan untuk mecabut paku-paku tersebut satu persatu.
Dengan heran si anak menuruti perintah ayahnya.
Setelah semua paku tercabut, sang ayah berkata "Nak, coba kau lihat tembok ini. Walaupun paku yang kau tancapkan sudah kau cabut tapi lubang bekas paku tersebut tidak hilang. Sama halnya dengan yang kau lakukan pada orang lain. Jika kau berkata kasar atau menyakiti orang lain kemudian kau minta maaf tetap saja luka yang kau sebabkan dihati orang tersebut tidak akan hilang seperti halnya lubang bekas paku ditembok."
Itulah yang terjadi pada kita, berulangkali kau menyakiti, kemudian kau minta maaf. Mungkin aku memaafkanmu tapi luka yang kau sebabkan masih tetap ada dihatiku.
Bukan hanya luka sepele, kau tidak pernah tahu akibatnya. Luka-luka itu sangat mempengaruhi banyak hal. mempengaruhi caraku memperlakukanmu, menatapmu, bahkan mempengaruhi perasaanku terhadapmu.
Aku pernah mengatakan padamu, hati seorang wanita itu ibarat gelas kaca. Jika kau buat retak maka tidak akan kembali utuh seperti semula. Bagaimanapun cara memperbaikinya. Mungkin masih bisa digunakan tapi air didalamnya akan sangat sering merembes keluar. Satu-satunya cara adalah menggantinya dengan gelas kaca yang baru.
Itu pilihanmu.
Senin, 19 Mei 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar